My Version of Self-love
Essay Motivation Letter
Belakangan ini, kata “self-love” cukup sering terdengar. Self-love
berkaitan dengan bagaimana kita memperlakukan diri sendiri dan berpengaruh
besar terhadap cara kita memperlakukan orang lain. Self-love sendiri memegang
peranan yang sangat penting, sebab bagaimana kita dapat mengasihi orang lain
jika kita tidak dapat mengasihi diri sendiri? Bagaimana kita dapat
memperlakukan orang lain dengan baik jika kita sendiri tidak dapat memperlakukan
diri kita dengan baik?
Sebenarnya memahami diri sendiri adalah hal yang sulit,
terlebih lagi mengampuni diri sendiri setelah melakukan kesalahan. Namun,
memahami, menerima, dan menyayangi diri sendiri merupakan bagian dari self-love
yang tidak dapat terpisahkan. Setiap manusia tidak ada yang sempurna. Ya, saya
mengakui bahwa diri saya memiliki banyak sekali kekurangan dan belum sepenuhnya
menerapkan self-love itu sendiri. Tapi saya ingin berbagi tips yang saya
terapkan dan semoga apa yang saya bagikan ini dapat membantu kalian yang sedang
membaca.
Saya seorang yang memiliki kepribadian phlegmatis. Memahami
perasaan sendiri merupakan hal yang cukup sulit bagi saya. Tidaklah mudah bagi
saya untuk mengutarakan dan mengekspresikan perasaan saya. Jika semua perasaan
itu sudah menumpuk dalam hati, rasanya satu-satunya hal yang bisa saya lakukan
hanyalah menangis. Setiap kali perasaan saya tidak enak, saya cenderung untuk memilih
untuk menulis diary. Walaupun tidak setiap saat saya melakukan hal itu karena
malas menulis, namun menulis diary membantu saya dalam memahami perasaan saya
sendiri. Biasanya saya akan menuangkan semua perasaan saya dan menjabarkan satu
per satu isi pikiran, permasalahan, dan apapun yang saya ingin katakan. Saya
mengakui setiap perasaan dan perbuatan yang saya buat, saya membiarkan diri
saya mengalami perasaan itu dan di akhir saya akan menuliskan refleksi saya dan
menuliskan cara yang harus saya lakukan untuk mengatasinya.
Tentang menerima dan menyayangi diri sendiri itu juga
bukanlah hal yang mudah. Seringkali saya sangat merasa bersalah atas apa yang
saya lakukan, merasa saya gagal, tidak berguna, merasa kecewa pada diri
sendiri, merasa tidak layak mendapatkan pertolongan, tidak pantas berada di
tempat saya yang sekarang, tidak mampu berubah, dan masih banyak lagi
perasaan-perasaan yang lain. Namun, hanya ada satu hal yang dapat meluruskan
pikiran saya dan membuat saya lebih baik, yaitu dengan berdoa. Saat itulah saya
menyadari betapa besar kasih Tuhan kepada saya. Ia tidak pernah menolak kita
saat kembali untuk meminta ampun dan bertobat, ketika saya merenungkan semua
hal baik yang terjadi selama ini saya dapat merasakan kasih-Nya yang begitu
luar biasa. Hal itulah yang membuat saya dapat menyayangi diri sendiri, sebab
Ia sudah terlebih dulu mengasihi saya. Saya tau bahwa Tuhan menciptakan saya
spesial dengan semua kelebihan dan kekurangannya. Tidak akan ada habisya jika
saya membandingkan diri dengan orang lain, namun saya percaya semua yang diberikan-Nya
itu adalah yang terbaik untuk kita dan sudah tepat sesuai dengan kemampuan kita.
Ketika merasa gagal, saya percaya bahwa semua yang terjadi ini adalah sebuah
ujian agar kita dapat diasah dan dibentuk menjadi lebih baik lagi. Ketika
merasa tidak mampu, saya mengingat kesetiaan Tuhan dan kebaikannya yang akan
selalu memampukan orang yang berharap kepada-Nya. Ketika saya menyadari bahwa
semua yang saya miliki berasal dari Tuhan, milik-Nya, dan untuk-Nya hal itulah
yang membuat saya ingin hidup lebih baik lagi dan merawat diri saya dengan baik.
Itulah self-love versi saya, bagaimana dengan kalian?
Sumber :
https://www.mentalhealth.gov/basics/what-is-mental-health
https://www.unicef.org/serbia/en/how-protect-your-mental-health-during-coronavirus-covid-19-pandemic
https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/daily-life-coping/managing-stress-anxiety.html
https://www.who.int/publications/i/item/9789240003927?gclid=CjwKCAjwiOv7BRBREiwAXHbv3PkB2iFznsw8v1K6qHWi-fJgBzwiykyYVXWGWupvCdzShQdB4TKK1xoCILcQAvD_BwE
Komentar
Posting Komentar